Yuk Dorong Anak Agar Cergas Finansial Di Era Digital

April 05, 2018 , 0 Comments

Yuk Dorong Anak Agar Cergas Finansial Di Era Digital

Kehadiran teknologi dapat membentuk budaya konsumtif melalui paparan informasi yang menjadi pemicu untuk berbelanja.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, sebanyak 45,14 persen masyarakat Indonesia menggunakan internet untuk mencari informasi harga dan 32,19 persen untuk berbelanja online.

Fenomena ini terjadi di tengah rendahnya tingkat literasi keuangan dan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan keuangan.

Dalam hal pengelolaan keuangan, 54,9 persen masyarakat Indonesia menyusun anggaran keuangan bulanan. Namun, hanya 16,85 persen berkomitmen melaksanakan perencanaan keuangan. 

Melihat fakta ini, maka orangtua didorong untuk menyadari dan memperbaiki pengelolaan keuangan keluarga dan mulai melatih keterampilan anak kelola uang sejak dini.

Untuk mendapat manfaat program tersebut, 100 orangtua siswa SDN 18 Pemecutan, Denpasar memperoleh edukasi pentingnya mengajarkan pengelolaan uang kepada anak di tengah tingginya paparan budaya konsumtif melalui teknologi dalam Citi Parenting Talkshow bertajuk “Cerdas Finansial di Era Digital”.

Director, Country Head of Corporate Affairs Citi Indonesia Elvera N. Makki mengutarakan, "Untuk mencapai kesejahteraan finansial, setiap individu perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai uang, membuat keputusan finansial yang cermat, dan mengelola uang dengan bijak sedari dini."

Ia berharap melalui program literasi keuangan berbasis digital ini, anak-anak belajar tentang konsep dasar keuangan dengan pendekatan interaktif yang aman, komprehensif dan menyenangkan.

"Kami juga mengajak orang tua dan guru bersinergi membangun karakter dan budaya kelola uang pada anak di rumah dan di sekolah. Program ini sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam menggalakkan Strategi Nasional Keuangan Inklusif ( SNKI),” lanjutnya.

Hal senada juga disampaikan Academic Advisor Prestasi Junior Indonesia Robert Gardiner. “Usia anak-anak merupakan momen tumbuh kembang yang di dalamnya penting untuk ditanamkan nilai-nilai dasar finansial," ujar Robert.

"Dalam program ini, anak-anak belajar orang tua mereka perlu bekerja atau berwirausaha untuk memperoleh uang. Anak perlu cermat dalam mengelola uang saku yang diberikan dengan menabung dan membelanjakan untuk hal-hal yang dibutuhkan," tambahnya.

Di kelas, siswa diberikan pengetahuan pentingnya menabung, memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, mengenali metode pembayaran, serta mempelajari kewirausahaan tingkat dasar dengan cara menyenangkan dan interaktif melalui gawai. 

Ia juga menyampaikan sejak tahun 2017 program Digital Financial Literacy for Children telah menjangkau 8.655 siswa-siswi dari 31 sekolah dasar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Denpasar.  

Teladan finansial orangtua
Dalam sesi parenting talkshow, Psikolog Anak dan Keluarga Roslina Verauli menekankan pentingnya menanamkan nilai uang sejak dini pada anak.

“Anak-anak masa kini lebih mudah terpicu menginginkan serta membeli barang karena kekurangpahaman pada makna uang sesungguhnya dan diperburuk dengan gencarnya paparan iklan melalui perangkat teknologi," jelasnya.

Orangtua dapat mengajarkan kepada anak dengan cara-cara yang sederhana. "Mulailah dengan mengenalkan uang secara fisik sembari mengajarkan bahwa uang memiliki nilai yang dapat ditukarkan dengan suatu hal," lanjut Roslina.

Pada usia anak yang lebih tinggi, anak dapat diajak ke pasar untuk melihat adanya transaksi uang, mengajar anak mencatat pengeluaran dan mengenalkan rekening tabungan di bank.

Yang terpenting menurutnya, orangtua harus menjadi teladan anak dalam mengelola uang. Hal ini penting karena pola pikir dan perilaku anak terbentuk dari apa yang mereka lihat dan alami di rumah.

Lana rezky

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: