Demi Mendapatkan "Like", Banyak Orang Membagikan Konten Negatif

Juni 04, 2018 0 Comments

Demi Mendapatkan "Like", Banyak Orang Membagikan Konten Negatif

Media sosial menjadi sarana alternatif untuk mendapatkan informasi. Sayangnya, belakangan ini media sosial kebanjiran konten negatif.

Dengan cepatnya, video pengeroyokan, penembakan brutal, perundungan, hingga video bunuh diri, menyebar bagai virus ke seluruh dunia.

Dibandingkan konten yang bersifat edukatif dan inspiratif, tak dipungkiri unggahan yang menimbulkan kengerian lebih mudah disebar ulang lewat media sosial.

Ternyata, memang ada kecenderungan masyarakat senang berbagi konten-konten negatif ketimbang positif.

Hal itu disampaikan oleh Digital Literacy Officer (Internet Safety) ICT Watch Acep Syaripudin dalam acara diskusi yang diadakan Forum Ngobras, di Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019).

ICT Watch sendiri merupakan satu dari empat lembaga di Indonesia yang dipercaya Google untuk menjadi bagian dari YouTube Trusted Flagger. Setiap harinya, tim tersebut menyaring video-video bermuatan negatif.

Menurut Asep, memang ada kecenderungan pada remaja saat ini senang berbagi konten negatif.

"Anak-anak dan remaja remaja sekarang lebih senang ketika mengupload konten-konten negatif. Di YouTube banyak banget," kata Acep.

Salah satu rekan Acep di ICT Watch memiliki peran untuk membersihkan video-video bertema bunuh diri. Yang menjadi keprihatinan adalah banyak orang yang justru merekam aksi bunuh diri tersebut alih-alih menyelamatkan orang tersebut.

Beberapa dari pelaku yang menonton dan merekam bahkan meneriaki korban untuk segera melompat. Itu semua demi kepentingan konten.

"Ketika meng-upload mereka mengharapkan subscriber, followers, likes yang banyak, dan sebagainya," ucapnya.

Menurut Acep, setiap dua hari dalam seminggu ia dan tim memblokir ratusan video dengan konten negatif. Namun, video-video itu akan diunggah kembali di minggu berikutnya dengan akun berbeda.

Seringkali akun penyebar justru kebanjiran subscriber atau mendapat banyak reaksi dari warganet.

"Jadi tidak ada konten kreatif milik dia yang bisa menginspirasi orang. Mungkin kalau konten positif tidak laku yang like, akhirnya (upload) yang negatif saja. Memang yang like bisa ratusan ribu," tutur Acep.

Sebagai gambaran, video negatif dengan kategori bunuh diri, misalnya, dalam dua minggu terakhir sudah mencapai 299 video.

Jumlah sebanyak itu harus diblokir dalam waktu empat hari karena waktu kerja masing-masing anggota ICT Watch untuk memblokir adalah dua hari per minggu.

Mengapa konten negatif lebih disukai?

Sosiolog Daisy Indira Yasmine menjelaskan alasan sosiologis mengapa banyak orang lebih senang mengunggah konten negatif.

Menurutnya, secara sosiologi sesuatu yang berbeda dari norma umum memang tampak lebih menarik.

Ia mencontohkan, humor. Sebuah humor seringkali dianggap lucu ketika menampilkan nilai yang berbeda atau berlawanan dengan nilai utama masyarakat umum. Sama halnya dengan konten di internet.

Hal ini memang menjadi paradoks. Sebab konten-konten negatif sebetulnya sudah dilarang untuk tayang. Misalnya, konten kekerasan.

"Semakin kekerasan dilarang, di satu sisi kita tahu bahwa kalau ada yang menyajikan kekerasan dalam sesuatu yang biasa, itu pasti akan jadi sesuatu yang viral, menarik, dan pasti orang ingin lihat," kata Ketua Pusat Kajian Sosiologi-LabSosio LPPSP UI ini.

Fenomena ini menurutnya menjadi kritik bagi kita dalam memproses konten di media sosial. Tidak cukup hanya berhenti pada melihat isi konten saja, tapi perlu melihat nilai di belakangnya.

"Seakan orang itu cuma stop di situ. Seru nih, kalau bunuh diri di-videokan, itu kan jarang. Tapi moralitasnya gimana kalau bunuh diri direkam?" ucapnya.

Menurut Daisy, penting ada keseimbangan regulasi sebagai salah satu kontrol sosial yang paling bisa dipegang dalam berbagai sisi.

Regulasi yang dimaksud adalah cuma dari sisi pemerintah, tapi juga norma dan nilai umum.

Penting untuk ada internalisasi dan dijelaskan alasan (reasoning) kepada masyarakat secara umum, mengapa kekerasan adalah hal yang buruk.

"Selama ini kan penanaman nilai hanya baik-buruk saja, titik. Padahal untuk generasi ke depan reasoning itu penting," kata Daisy.

Peran masyarakat untuk melawan unggahan negatif dengan mengunggah konten-konten positif juga penting.

"Sebab kalau kami melakukan blokir itu sebenarnya kurang efektif, tapi bagaimana menciptakan konten positif itu yang lebih efektif," kata Acep.

"Minimal itu bisa mereduksi konten negatif dan tidak ada di halaman pertama mesin pencarian. Memproduksi konten positif kan jauh lebih baik."

Baca juga: Remaja Percaya pada Orangtua tapi Tak Nyaman Bercerita

Lana rezky

Some say he’s half man half fish, others say he’s more of a seventy/thirty split. Either way he’s a fishy bastard. Google

0 komentar: